Shore Birds-Kopi hitamku

Berawal dari jalan-jalan iseng semi nge-guide sepasang teman dari Prancis yg lagi mudik ke Indonesia, saya jalan(naik motor ding) ke Pantai Trisik (6 September 2010). Rupanya moment itu mengembalikan passion saya tentang dunia burung yg slama ini seolah tertimbun di dasar laci meja kerja saya. Bersama teman-teman dari Bionic dan siswa-siswi dari SMA Wates (lupa pastinya,maaf) rasanya matahari siang itu begitu menyejukkan jiwa saya yang sudah mulai me-layu. Lapar dahaga puasa pun tidak begitu berat terasa.

Delta

Tepi Laguna-Bersama teman-teman dari Bionic, SMU Wates dan dua sahabat saya Xavier 'n dewi Xavier

Apalagi ketika selesai sesi pengamatan bersama siswa-siswi SMU,  dan Xavier dan istrinya mbak Dewi kembali ke kota untuk urusan pekerjaan (mereka exportir craft dan furnitur) kami, saya dan beberapa teman dari Bionic, (Helmy, Juki, Imam, Shoim n his lil sister, Zul gendut, ndlohak, pak raden)mmmm…sapa lagi ya yg belum kesebut???pokoknya rame lah, kami kemudian pindah site ke muara sungai dimana di sana ada satu daratan yang jika sungai sedang surut, daratan itu akan muncul menjadi semacam pulau kecil tempat para burung beraktifitas. Awesome!!! Untuk mencapai pulau kecil itu kami harus menumpang perahu sampan milik bapak-bapak penambang pasir yang mengambil pasir di dasar  muara sungai itu.

Muara Sungai Progo

Sampan penambang pasir

Meski gerimis mengiringi pelayaran kami, itu tidak menyurutkan tekad kami untuk mencapai pulau burung itu. Honestly, dalam hati saya terus-terusan berdoa semoga sungai nggak tiba-tiba pasang, bisa pulang nama doang kami, secara saya belum mahir berenang apalagi di muara sungai se-kelas sungai Progo.  No..no..not me.. thankyou, just go ahead if you wish to.

Dan kira-kira seperti inilah lukisan Yang Maha Kuasa.Subhanalloh.. Benar-benar mampu membuat saya menelan air mata.

Pulau burung Progo

Hamparan Dara Laut

Ardea Cinerea

Grey Heron

Dalam gerimis

Sayang sekali petualangan kami di surga kecil itu harus disudahi karena bapak penambang pasir sudah memanggil kami untuk kembali ke tepi sungai. Benar-benar mendebarkan buat saya, karena jujur saja ini pertama kali saya menginjakkan kaki di daratan indah itu.

Dan hujan pun mengiringi deru motor tua 800 saya menyusuri jalanan tanah berlumpur hingga mencapai jalan beraspal dan kemudian jalan raya, bahkan sampai rumah saya. Hujan seolah menyembunyikan air mata kagum saya pada Kuasa Alloh. Pengalaman indah itu takkan tergantikan oleh apapun. Dan begitu lengkap nikmatnya ketika malamnya saya kembali bertemu dengan teman-teman untuk ngangkring bareng di Angkringan KR sekaligus farewell party nya (ditraktir Imam) temen-temen yang mau mudik lebaran besok paginya.

Guys, thanx for giving me back my passion. I feel soooo full that day. Ibarat kopi, gula kalian tu se-sendok teh, pahit namun pas di lidah.

Fatimah.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in I catch the birds, Kopi Hitam ku, Perpustakaan Alam, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s