Menyesap semua kenangan

Malam itu Victor menjemputku untuk makan dan minum kopi. We love black coffee a load. Dia tampak selalu menawan dengan matanya yang tajam namun kadang begitu sayu dan teduh. Kami memutari area Tugu Jogja dan kami sampai di sana. Tempat itu slalu rame, suasana nya enak sih..

“Vick, besok pagi aku mau urus dokumen ke imigrasi, mau nemenin nggak?” tanyaku di sela hiruk pikuk nya malam Jogja.

Kamu “Besok? Jam brapa? Kayaknya besok aku ada acara pagi.”

Aku “Okey, I see..no probs. Kalo besok pagi tiba-tiba harga cabe turun dan acaramu batal, let me know ya.”

“Pasti.” Kamu bilang.

“Bener ya”

“Keep my word”

“Jadi sekarang mo ngopi dimana nih? Aku pengen ngobrol nyantai, di sini terlalu rame, jalan aja yuk.” Dan kamu pun melajukan sepeda motormu ke arah keluar dari pusat kota. Selama di perjalanan aku nggakbisa berhenti bercerita tentang betapa aku bersemangat untuk segera berangkat ke Inggris, ke rumah Nenek ku. Ah..Nenek, aku sudah kangen sekali sama nenek. Sudah 5 tahun sejak paman membawa nenek pindah ke Inggris, aku nggak pernah ketemu, paling cuma bisa telfon aja yang bisa mengobati rasa rinduku pada nenek.

“Kira-kira sekarang nenek ku seperti apa ya Vick?”

“Yang pasti tetep cantik, kayak kamu.”

“Maksud mu?! Kamu mau bilang kalo aku dah setua nenek ku?!” Pekik ku sambil mencubit manja ke pinggangmu dan membuatmu kegelian.

“Hahahhahahahaha…Bukan aku yang bilang lho, kamu sendiri barusan yang ngomong gitu, aku bilang kan cantik kayak kamu.” Tawa mu cukup keras hingga membuat beberapa orang yang berkendara di dekat kita menoleh kepada kita. You know Vick? That laughter that i can’t promise to forget. Aku akan merekam semua gelak tawa mu di dalam ingatanku. Aku juga akan merekam semua momen saat kita berdebat tanpa kamu mau mengalah sebelum mataku memerah dan kamu pun tersenyum sambil memelukku dengan sabar. Senyummu aku yakin menempel di setiap langkah kaki ku bersamamu, hal itu nggak akan aku lupa.

“Apa aku nggak jadi berangkat aja ya?” gumamku seolah sedang bernegosiasi dengan diriku sendiri.

Spontan kamu menginjak rem hingga jidatku terantuk helm mu,”Hey..!!!apa-apaan sih kamu?! Liat kodok nyebrang ya?”

“Bilang apa barusan?”Tanyamu sambil menatapku tajam, bikin aku takut,tau?!

“Bilang apa? Aku nggak bilang apa-apa kok.” Batinku ‘Duh..denger aja sih ni orang’.

“Kamu bilang mau nggak berangkat?! Kita udah pernah bahas ini berkali-kali dan kita tau ujungnya bakal kemana. Please.. don’t do these to me. Im struggle to not to be sad but you just playing with my heart.” o ow..boss marah..

“I know Vick, but you know, this is not a short vacation like im going to Bantul or sleman, ini Inggris, aku bahkan belum pernah tau daun pisang di sana tu warna nya apa. Aku sendirian ke sana. Aku harus ninggalin kotaku untuk waktu lama, kamu pikir gampang apa?” Aku kali ini nggak mau kalah. Tapi suaraku udah serak nahan pengen nangis. ‘Dasar Victor bodoh! aku tu berat pisah sama kamu bodoh!’ gerutu ku dalam hati.

Kamu melajukan motor dan kita berhenti di sebuah tempat dan kamu bilang “I know it’s not easy for us, but you have to face this. 3 taun gak bakal lama kalo kamu udah mulai sibuk di sana. Ketemu cowok-cowok keren di sana.”

“Iya, keren dan nggakbisa bicara bahasa indonesia, sebelah mana keren nya?”

Kamu menarikku duduk di trotoar jalan dekat gerobag wedang ronde dan kamu menggenggam tanganku dan mata itu, please don’y kill me with your eyes..”aku janji, you’ll gonna be fine, im gonna call you every day, kita bisa chatting tiap hari, dan kamu bakal ngrasa aku ikut pergi sama kamu”

“Ntar kalo aku pengen begadang siapa yang bikinin kopi?”

“Ya kalo itu bikin sendiri.” katamu sambil melengos.

Aku ingin sekali memelukmu sampe aku puas, sampe semua aroma parfum mu habis kuhisap dalam paru-paru ku. Aku nggakmau pagi, biar aku pingsan aja jadi aku nggak harus ketemu pagi dan kamu nggak ada. Aku nggakmau itu. aku benci harus jauh dari kamu.

“Vick?”

“Hmm..”

“May i ask you something?”

“Go on”

“Kira-kira 3 taun lagi kamu udah punya istri blm?”

“Ah..nanya yang lain aja deh. Aku nggakmau mikirin itu dulu, ntar kalo aku nikah pasti aku kasih tau kamu.”

“one more question?”

“apaan?awas ngaco!”

“Kalo suatu saat nanti aku nikah, kamu sedih nggak?”

“Kenapa harus sedih, wedding kan berita bahagia dodol..”

Wedang ronde datang dan seruput demi seruput kusesap hangatnya seperti kenangan kita yang ingin sekali ku sesap sampe aku merasa kamu akan selalu kubawa di dalam kantongku dan akan ku keluarkan sewaktu aku ingin bercerita tentang semuanya.

 

 

Fatimah, Jogjakarta, 22 Februari 2011, 11.56 wib.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in belajar cerpen, Kopi Hitam ku and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s