Drown My Self Under My Desk

Punya pekerjaan memang menyenangkan dan salah satu cara mempertahankan eksistensi diri. Punya karir memang menyenangkan apalagi ditengah sulitnya mencari peluang kerja dan persaingan yang gila-gilaan kayak sekarang ini. Punya penghasilan yang cukup bahkan berlebih bisa memberikan kita kesempatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan kita dan membahagiakan orang-orang yang kita sayang; bukan berarti kebahagiaan bisa dinilai dengan uang, tapi dengan punya uang kita bisa memberikan sesuatu untuk membuat orang lain bahagia.

Tapi apa jadinya jika dalam 24 jam waktu kita dalam satu hari, kita hanya punya waktu maksimal 6 jam untuk badan kita; meliputi ibadah, istirahat, beres-beres, makan, etc…?

Awalnya saya merasa bahwa apa yang saya jalani beberapa taun ini adalah suatu prestasi. Saya punya pekerjaan tetap dengan gaji tetap yang cukup untuk ukuran Jogja, saya punya side jobs yang nggak cuma satu macam, saya punya banyak kegiatan dan komunitas di luar lingkungan kerja dan keluarga saya. Saya bisa menuruti hampir sebagian besar keinginan ibu saya berbelanja, jalan-jalan, apa saja boleh.. Saya bisa makan apapun yang saya mau makan berapapun harganya; saya mau-saya beli-saya makan.

In one periode, im turned into a slim even skinny girl, and in another time im getting bubbling. Saya bisa membeli apapun yang saya mau kecuali satu hal, KEBEBASAN. Im singing redemption song but im living in a bottle, where there is a beautifull palace, where there is a PC and the modem as well, i can stay awake all day and night but one thing, FREEDOM.

Saya berada jauh dari pacar saya, saya tinggal di Jogja dan dia di Surabaya. Punya banyak waktu kosong bisa membuat pikiran saya secara kreatif memikirkan hal-hal yang bisa membuat hubungan kami semakin sulit. Dan saya pun mulai mengambil satu side job.

Saya punya orang tua yang alhamdulillah sangat baik menjaga kami anak-anak mereka untuk berproses hingga menjadi manusia yang bertanggung jawab pada apapun pilihan kami masing-masing, whatever it is. Karena saya tidak suka di-dikte dan saya tidak mampu melawan;kalopun saya bisa, saya tidak akan mau melawan orang tua saya demi memenangkan ego pribadi saya. Dan saya pun mulai menambah satu lagi side job.

Saya punya sahabat-sahabat dekat yang selalu ada di sekeliling saya di Jogja ini. Dengan berkembangnya kehidupan kami masing-masing, keadaan pun berubah. Satu demi satu sahabat saya pindah keluar dari kota Jogja. Saya tau semua orang berhak menentukan jalan dan masa depan masing-masing, itulah kenapa meskipun saya merasa akhirnya ada yang hilang ketika mereka pergi tapi saya bahagia untuk mereka. Dan untuk mengusir rasa semakin sepi saya itu, saya mengambil lagi satu side job.

Dan beberapa side jobs datang dan datang lagi dan saya mengambil itu sebagai pengisi kekosongan waktu saya hingga dalam 24 jam saya, sering sekali saya hanya punya waktu tidur 1,5 hingga 4 jam, bahkan pernah suatu kali saya bekerja hingga 28,5 jam tanpa tidur sama sekali. Saya terus menerus mengerjakan aktifitas saya yang sebagian besar di depan komputer. Itu rekor terjaga saya yang terpanjang, rasanya benar-benar ringan badan saya, seperti melayang-layang di udara.

Kopi, rokok, dan tentu saja musik rege menjadi teman terdekat saya saat itu. Saya tau itu tidak sehat sama sekali baik daur jam biologis saya maupun apa yang saya konsumsi untuk menjaga mata supaya tetap terjaga; kecuali musik rege, healthy proven kalo yang satu itu🙂

Saya menjadi seperti orang setengah robot, saya seperti terikat dengan PC saya, dan saya kadang paranoid dengan HP saya. Saya seperti dikuasai oleh pekerjaan saya dan bahkan saya tidak punya cukup waktu untuk diri saya sendiri. Saya lelah..

Kadang saya merasa apa yang saya jalani adalah PELARIAN dari perasaan sepi dimana saya jauh dari pacar saya, sahabat-sahabat saya, dan banyak masalah dan tekanan yang kalo saya sudah mulai diam, pikiran saya akan ribet sendiri. Saya nggak mau pusing sendiri dan akhirnya saya menjejali otak saya dengan kerja dan pekerjaan. Saya seperti addicted to work atau bisa dibilang workaholic. That’s pathetic and frustrating.

Dengan keterusannya apa yang saya lakukan, membuat orang tua saya protes karena saya mulai jarang ada di rumah dan rumah sudah seperti halte saja. Jarang di rumah, jarang makan di rumah, jarang tidur di rumah, tapi yang pasti saya selalu tidur, makan dan beraktifitas dekat bersama PC saya dibanding keluarga saya.

Entah sampai kapan saya akan terobsesi dengan bekerja. Saya sering sekali merindukan saat dimana saya dan ibu saya creambath bareng, memotongkan kuku tangan dan kaki mbah putri saya atau menemaninya saat malam minggu semua anak kost nya pulang kampung.saya selalu sendirian melakukan apapun.

Apa saya sedang berlari atau melarikan diri?

Saya nggak tau, i really have no idea ’bout this.

Satu khusnudhon saya, pasti Alloh tuhan saya punya sesuatu yang besar untuk masa depan saya, karena Dia mempersiapkan saya this tough. I hope, I pray..

kalo udah pusing, maen suit sama laptop :p

 

fatimah, 1 maret 2011, 11.42, still on my desk.


About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in Kopi Hitam ku, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s