Coffee and The Kiss

Sudah beberapa bulan ini aku seperti terasing di negri asing ini. Dan semakin asing karena di hari-hariku nggak ada tawamu, Vick. Kamu sebenernya kemana sih? Does aliens take you away from the planet or what?!

Bulan ini ada pertemuan tahunan komunitas kita, dan acaranya di London. Aku dah liat daftar pesertanya dan ada diantaranya dari Indonesia, i hope you attend it. Tapi gimana aku bisa tau kamu dateng apa nggak, jangankan email, smsku aja kamu nggak bales. Apa kamu dah lupa tahun-tahun sebelumnya kita selalu datengin acara ini sama-sama? Mungkin kamu juga lupa kalo bulan ini aku ulang taun.

Dan hari itu tiba. Aku berusaha datang lebih awal sebelum agenda pertama di mulai dengan harapan aku bisa ketemu temen-temen dari Indonesia yang mungkin tau tentang kamu dan kabarmu. Satu jam sudah aku nunggu di beberapa meter di dekat meja registrasi peserta dan kamu nggak muncul. Come on Vick, it’s 10 minutes to the opening, show me a sign..!!!

5 menit sebelum acara dimulai aku registrasi, aku buka lembaran demi lembaran daftar hadir peserta dan jantungku seperti mau loncat you know?! I finnaly found your name on the book ! But how can i didn’t see you came?

Setelah selesai registrasi aku langsung lari menuju ruangan, aku menyapukan pandanganku ke setiap kursi, jantungku berdegup sangat kencang dan semakin kencang meneliti satu persatu wajah-wajah peserta acara.

‘Percuma, aku nggak bakal nemuin kamu pagi ini di antara 500 peserta’ keluhku dalam hati ketika tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan dalam sepersekian detik aku menoleh sambil berharap itu tanganmu, ternyata salah satu panitia yang mungkin kasihan melihatku celingukan seperti mencari sesuatu, dan panitia yang baik itu mencarikanku tempat duduk. Di deretan paling belakang karena bagian depan sudah penuh terisi peserta lain yang masuk sebelum ku.

“Please..” kata panitia yang ramah itu sambil senyum “Just let me know if you need someting.”

“Thank you” balasku sambil hanya mampu senyum tanpa bisa lebih banyak mengucap kata-kata karena kalo aku minta dia nemuin kamu buat aku mungkin juga dia nggak bakal bisa.

Bangku sebelahku masih kosong satu kursi, tapi ada jaket seseorang di situ. Aku berharap bangku itu kosong dan kamu yang akan menempatinya. Aku melirik jaket itu sekilas dan ow my god, ada emblem bendera merah putih di lengan kanannya, artinya milik anak Indonesia. Belum sempat aku sadar penuh dari kagetku akan bendera merah putih itu lalu seseorang dari sampingku berkata

“Excuse me, is that sheet belongs to someone?” Suara itu, sepertinya aku sangat mengenalnya. Aku diam sesaat untuk meyakinkan lebih yakin lagi kalo suara itu suaramu Vick. Actually i hope.

Dan ternyata suara itu memang kamu, sambil senyum dengan cueknya duduk di bangku sebelahku itu dan menyodorkan kopi padaku

“Udah lama nunggu ya? sori tadi ngantri kopi nya lama”

“Victor!” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Yes Miss Emily? Did you wish for some other else?” kata mu masih dengan senyummu.

“Ow my god, kamu jahat banget sih! kamu kemana aja? kamu tau aku udah nunggu sejam lebih di depan sana berharap kamu muncul?!” Aku mulai mengomel sampai beberapa orang di sekitar kita melihat ke arah kita.

“Yang penting udah ketemu kan?”

“Bisa ya kamu lakuin ini ke aku!” Rasanya aku pengen menelanmu utuh-utuh saat itu juga supaya kamu nggak ilang lagi.

Belum selesai aku mengungkapkan kekagetanku, lampu sudah dimatikan pertanda acara akan segera dibuka. Ruangan ini seperti ruang teater dengan kursi-kursi yang ditata bertingkat dan panggung berada di bawah sana.

Kurasakan genggaman tanganmu sangat erat.

“Vick?”

“Hmm??”

“Can i have a hug?”

“Hug hug nya ntar aja di rumah ya” bisikmu sambil cekikikan.

“Asem, kamu nggak berubah ternyata setelah berbulan-bulan ngilang” balasku. Seandainya kamu tau aku sangat ingin memelukmu Vick.

“Emang kamu berharap aku berubah jadi apa? kodok?” masih tertawa merdeka kamu.

“Puas ya kamu dah ngerjain aku?”

“O puas banget” seandainya ruangan ini terang aku ingin sekali melihat tawa itu, mata dalam itu, hidung itu.

Acara pembukaan ini terasa sangat membosankan karena aku ingin segera pergi dari sini dan ngobrol sama kamu.

“Kamu dateng sama sapa Vick?” tanyaku.

“Rame-rame kok, ada 5 orang” jawabmu cuek seolah kita baru nggak ketemu sejak semalem.

“Eh ntar kita pada mampir apartemenmu ya, boleh kan?” katamu lagi.

“Ya boleh dong, im hoping so freak” dalam hatiku bersorak-sorak bergembira.

Acara pembukaan selesai dan akhirnya kita bisa gabung dengan keempat temen kita. Ngobrol nglepas kangen sama temen-temen, ketawa-ketawa sampai nangis geli aku dengar cerita bodoh kalian selama perjalanan kemari. Jam 3 sore acara selesai dan agenda selanjutnya baru akan diadakan lagi besok siang. Itu untuk memberi kesempatan para peserta untuk istirahat setelah penerbangan jauh, kali aja para peserta masih pada jetlag.hehe

“Eh kalian wajib ke apartemenku sekarang,okey?!” aku mengundang mereka semua.

“Yaaahh gua harus ke tempat temen dulu nih, kasih alamat apartemen mu deh, ntar gua nyusul.” Kata Heri temen kita.

“Aku ikut Heri, takut dia nyasar apa digondol bule, secara Heri kan tampang eksotis-eksotis primitip gitu” celetuk si Pras dan tawa pun kembali memenuhi udara sekitar kita.

Akhirnya kita berempat menuju apartemenku yang letaknya agak jauh dari gedung ini. Tapi kliatannya Tri dan Nisa kecapekan banget karena mereka baru dateng dini hari tadi dan harus langsung acara. Hanya mata mu yang kulihat segar dan cerah sore itu.

Sampai di apartemenku, Tri dan Nisa langsung ambil pewe alias posisi wenak masing-masing di sofa depan tv.

“Eh Ly, sctv nyampe sini nggak? pengen nonton FTV nih” kata si Tri seolah kami nggak sedang berada di luar Indonesia.

“Heh, kamu pikir ini di Bantul minta SCTV?” kataku masih nggak bisa berhenti ketawa karena tingkah kalian.

Nisa sudah langsung terkapar ketiduran, dan aku membangunkannya untuk pindah ke tempat tidurku supaya dia bisa istirahat lebih nyaman.

“Aku bikinin kopi ya Vick” aku masih mencoba menetralkan hatiku dari kekagetan yang serba mendadak dan bertubi-tubi ini. Dan tanpa menunggu jawabanmu aku langsung menuju pantry dan memanaskan air untuk merebus kopi Atjeh yang aku bawa dari Indonesia.

Kamu dateng dan langsung memelukku dari samping. “Katanya minta dipeluk?”

“Heh, jangan gila kamu Vick, kalo anak-anak liat bisa geger mereka” aku nggak sempat nyelesein kalimatku itu actually karena wajahmu ternyata sudah berada 1 inch dari hidungku dan sekali lagi kamu menciumku.

Dalam hati aku berteriak ‘don’t kill me like this…aku bisa pingsan tau!’ Kamu benar-benar nggak peduli apa Tri ato Nisa bakal bangun dan ngliat adegan “tidak biasa” di mata mereka ini.

Aku ragu-ragu antara kangen dan nggak habis pikir dengan kamu Vick. “Kamu nekad Vick” Cuma itu kata-kataku buat kamu.

Gludug! ada suara sesuatu benda jatuh dari arah sofa dan teriakan “Im OK” rupanya Tri terjatuh dari sofa, mungkin karena saking capeknya dia jadi nggak sadar kalo posisi tidurnya sangat di pinggir sofa. Dan karena kaget kita pun spontan melepaskan pelukan. Batinku ‘sialan si Tri, kaga bisa liat temen seneng bentar aja’

Udah lama banget aku pengen nanya ini “Kamu sebenernya kemana aja sih Vick?”

“Ada lah pokoknya, nyari sesuatu dan kamu nggak boleh tau” kamu nyengir hepi.

“Bisa nggak kalo nggakusah nyebelin?”

“Hahahaha” ketawa mu itu yang aku rindukan meskipun aku harus sungut-sungut karena sebel sama jawabanmu, tapi demi ngliat tawa itu aku rela.

“Mmmm.. sebenernya aku nyari ini” Kamu mengambil sesuatu dari saku celanamu dan menunjukkan sebentuk benda kecil berwarna hijau.

“Liontin Paua?! huwaaaa… bagus banget, kok tau aku pengen banget liontin paua ini?”

Paua adalah salah satu jenis kerang dari New Zealand, berwarna alami hijau campur ungu agak metalik, indah sekali dan aku sangat suka itu.

“Kok ge er amat sih kamu, emang liontin ini buat kamu?” kamu masih sok cool padahal mata itu nggak bisa bohongi aku.

“Aku sih jelas tau kalo itu buat aku, aku kan peramal” :p

“Kalo peramal harusnya kamu tadi nggausah nunggu sejam lebih dong, langsung aja ke meja kopi, udah lupa ya minuman favoritku?”

Aku mencubit kecil perutmu dan kamu nyengir pura-pura kesakitan. Kemudian kamu pasangkan kalung berliontin paua berbentuk burung itu di leherku.

“This just damn beautiful Vick, thanx ya” kataku sambil memelukmu.

“Kamu suka?” Aku mengangguk senyum dan pikiranku melayang ‘harusnya aku tau kamu bakal datang dan nggak mungkin lupa ulang taunku.

“Happy birdday Em” uuummmhhh senyum kamu bikin aku mabok kopi..

“Makanya jangan mikir aneh-aneh, kamu pasti mikir kalo aku bakal lupa ulang taunmu, aku bakal sibuk dengan urusanku sendiri, aku bakal lupain kamu” Aku menghentikan ucapanmu dengan pelukan sangat erat. Saat ini aku nggak peduli kalo Tri ato Nisa sampai liat kita berdua. Aku cum pengen nangis dalam dekapanmu Vick. Terlalu banyak masalah yang harus kuhadapi sendiri di sini. Jarak membuatku cukup rapuh untuk berjalan sendiri.

“I wish you don’t have to go home next week” kataku lirih.

“Enak aja..trus kerjaanku gimana?bisa mencak-mencak pak boss ntar”masih aja sok cool kamu.

Kita ngobrol di pantry sampe nggak krasa kalo malam semakin larut dan aku pun tertidur lelap dalam sandaran bahu kurusmu yang hangat.

Entah berapa lama aku tertidur sampai aku bangun kaget denger suara bel pintu.

“Itu pasti Heri sama Pras,Vick, aku bukain pintu buat mereka dulu ya”

“Hm mh, sekalian aku minta bantal dong, ngantuk banget nih, kamu tidurnya pules banget sampe aku nggakbisa pindah”

“Eh pindah sofa depan aja gih, di sini pegel lho” Aku mengambil bantal kemudian membuka pintu, tapi sebelum bantal itu sampai ke tangan Victor sudah disambar Heri sambil berkata

“Ya ampun..lo emang temen gua yang paling perhatian Ly, gua doain lo enteng jodo yak” Tanpa peduli aku yang belum menjawab apa-apa Heri langsung ngloyor dan lesehan di karpet depan tv. Dan nggak ketinggalan Prass pun menyusul.

“Ah ni kutu dua ni dateng-dateng langsung tidur aja” omelku geli ke mereka sambil menuju pantry dan melihat kamu dah ketiduran di meja makan. Aku mencoba membangunkanmu meski aku tau itu percuma

“Vick, pindah sofa gih, biar lehermu nggak sakit.” percuma, ini nggak bakal berhasil. Yaudah lah, paling besok pagi juga udah pindah sendiri.

Dalam tidurmu, kamu seolah tetap nggak melepas dunia mu, dunia yang sangat kamu cintai.

Vick, keadaan memang nggak selalu seperti yang kita inginkan ya?! Semoga aku kuat melalui semua ini meski dengan ato tanpa tawa mu. Tawa sahabatku yang akan selalu kurindukan di setiap tenggakan kopi itamku.

Jogja, 23 April 2011. 02.22am
fatimah.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in belajar cerpen, Kopi Hitam ku and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Coffee and The Kiss

  1. Mumun says:

    Hemmm, lucu dan menggelikan
    Kliamksnya kurang hot,,
    hahaha
    sing rodo ganjal, mosok si emily ngomong ” asem”, neng bagian perckpan karo victor…
    hahahahah

    Koyo kopi crtne mbak…
    Kopi susu, manise pas…
    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s