Hujan Bulan Juni

Sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono


HUJAN BULAN JUNI


tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu


 Entah hanya saya saja atau memang begitulah puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ini sering sekali mengisahkan tentang sebuah keikhlasan mencintai, seperti yang satu ini.

 Saya akan mencoba membacanya dari bait per bait sepemahaman saya. Sekali lagi, ini sebatas pemahaman saya.

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Bulan Juni, dalam siklus iklim yang normal (nggak sedang badai lanina :p ) seharusnya sudah masuk musim kemarau selepas musim penghujan. Dimana pohon-pohon mulai berbunga bermekaran, cuaca hangat, serangga bermunculan, semua terlihat cerah. Jadi kalo sampai hujan turun di bulan Juni, hujan itu pasti melakukannya karena suatu alasan yang kuat. Hujan itu harus menepis semua anggapan datangnya dia sebagai sebuah “anomali”, dan demi cintanya, dia rela hanya menggerimis demi tidak merusak bunga yang sedang bermekaran.

Ibarat kata, aku bahagia asal kau bahagia.

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Si hujan ini rela apa yang dilakukannya tidak diketahui siapapun demi menjaga perasaan sang kemarau. Betapa inginnya dia membelai bumi namun harus ikhlas dan kuat melihat bumi bersentuhan dengan matahari.Dia tidak ingin menyakiti siapapun.

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Sang hujan berkorban secara diam-diam membasahi tanah supaya pohon berbunga itu tidak mati tersengat teriknya kemarau. Namun dia tetap tidak menampakkan genangannya. Baginya, bisa berada di bawah permukaan tanah tak terlihat pun asal bisa membasahi akar sehingga bunga itu tidak layu, itu sudah cukup. itu sebuah cinta.

 Dan menurut saya tidak ada juga yang lebih gila dalam mencintai sebagaimana Hujan Bulan Juni.

 Puisi ini pasti sangat disukai para pencinta rahasia, secret admirer, pemuja rahasia dan sebangsanya.

 Ikhlas melihat yang dicintainya cerah bahagia meski yang dicintainya itu tidak pernah tau tentang pengorbanannya untuk membahagiakan yang dicintainya itu. Mencinta dengan memberi. Tidak peduli apa orang lain akan tau dan mengerti. ATAU, bisa juga karena ini sebuah cinta segitiga yang karena tidak ingin menyakiti sudut manapun dia rela untuk tidak menampakkannya.

 Saya yang masih selalu egois ini merasa mencintai dengan cara seperti itu adalah cara yang gila. Berat sekali untuk melakukannya. Hal ini hanya bisa saya lakukan kepada dia yang tidak boleh saya cintai. Padanya yang tidak ingin saya lukai karena saya mencintai yang lainnya. Kepada yang saya terlalu takut untuk kehilangan sehingga saya memilih untuk tidak memiliki.

 Karena ketika saya mencintai seseorang dan tidak ada aral yang melarang saya mencintainya, tidak ada alasan juga untuk saya merahasiakan itu dari siapapun.

  Jogjakarta, 29 April 2011, 00.01

fatimah.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in Belajar Puisi, Kopi Hitam ku and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s