Gagang bayam timur, Exploring tambak Keputih

Hari sabtu 30 Juli 2011 adalah tanggal yang sudah tua renta bagi saya yang gajian di awal bulan😦 dan entah kenapa hari itu saya pengeeeenn bgt mancing.

Di tengah perdebatan saya dengan Furqon pacar saya tentang tempat memancing apakah mau di kolam pemancingan yang mbayar ato di sungai dekat mangrove di Wonorejo dan ditengah-tengah pertarungan idealisme dan ekonomisasi hoby :p ini muncullah ide dari Leman teman kami untuk menghubungi teman kami yang bernama HAJAAAAARRRRRR… hehehe namanya Hajar, teman SMP Furqon dan Leman. Hajar ini punya tambak yang cukup luas, dan kami diijinkan memancing di tambak mana aja yang kami mau, tapi sayangnya dia dan suaminya nggakbisa nemenin mancing karena ada acara keluarga di Gresik. Kami bahkan dibawain es dawet oleh Hajar, hehehe baik banget sih ibu satu anak ini :p

Begitu memasuki area pertambakan, di daerah Keputih, Surabaya, kira-kira 10 menit dari kampus ITS, saya langsung disambut kepakan-kepakan kuntul kerbau dan hey… look at that..itu kan si misterius yang sudah 3x saya ketemu dan belum yakin dengan identifikasi saya dan akhirnya hari itu saya bias dengan jelas tanpa binokuler ataupun monokuler, hanya berjarak paling dekat sekitar 3 meter dari mata saya dia terbang.

Belum puas saya memastikan bahwa si misterius itu berjenis Dara laut kecil, saya sudah terusik oleh sesosok putih bermantel hitam dengan kaki jenjangnya yang berwarna merah dan tengkuk berhias garis hitam agak tebal. Masyaalloh..saya benar-benar harus menghafal setiap jengkal lekuk tubuh dan warna bulunya, karena saya nggak bawa Buku Panduan burung waktu itu.
Sore itu di sebuah petak tambak yang airnya sudah surut, nampaknya selesai panen, di petak yang satu itu saya bertemu dengan 9 jenis burung secara bersamaan, saya sampe pengen nangis saking hepi nya T_T. Ada si putih bermantel hitam Gagang bayam timur, Kuntul kerbau, Blekok sawah dalam dua penampilan breeding dan non-breeding, Dara laut kecil yang terbang kesana kemari melintas menyambar dan menukik kemudian terbang lagi, Trinil semak dengan pola terbangnya yang sangat khas, Mandar batu dengan jidat merahnya yang khas juga, Bondol oto hitam yang pernah bikin saya jatuh cinta pada pandangan pertama waktu saya mengunjungi Pagak beberapa bulan lalu. Cici padi yang berisik memecah keheningan tambak, dan serupa Tikusan tapi saya nggak berani memastikan tikusan jenis apa yang saya temui itu.

gagang bayam timur

Sumbe gambar : Baskoro, Semarang Bird Community

Dan mereka beraktifitas dalam satu petak tambak yang sama, khusus Cici padi, Bondol Oto hitam mereka berkegiatan di semak-semak yang tumbuh di bagian tepi dari petak itu. Saya benar-benar seperti mampir di surga (kayak tau surga aja :p ) yahhhh…at least tempat yang saya datengi tu salah satu bocoran surga menurut saya.

Panasnya matahari sore di tambak waktu itu serasa ter-sejuk-i oleh sepasukan burung yang seolah tumpah ruah mengelilingi saya. Ouwwhhhh rasanya pengen ndiriin tenda dan nge-camp di sini :p

Puas mengamati dan menggambarkannya di ingatan saya, kembali saya ke Furqon dan Leman yang sibuk dengan pancing-pancing. Sesampai ditempat mereka saya segera membuka es dawet dan nasi bungkus ayam goreng yang tadi kami beli di warung dekat mes KONI JATIM, sambelnya enak…hehehe
Kami makan bertiga seperti sedang piknik sampe-sampe mas-mas yang sedang mancing di deket kami pergi karena kami brisik ngobrol dan makan,hehehe
Kenyang dengan bekal yang habiskan seketika itu hingga air putih aja yang tersisa, kami lanjut konsentrasi ke pancing.

Tik tok tik tok satu jam berlalu. Berkali-kali ganti umpan, lempar kail pindah tempat, tak satu bandeng pun nyangkut di pancing kami. Sementara mas yang tadi ke-brisikan kami, dia sudah mengantongi beberapa ekor mujaer. Kata Leman, ini namanya belajar sabar Rek, sebelum kita masuk bulan romadhon.

Haduh Leman…alas iku ombo, tapi lek wes keno alas an iku tambah ombo maneh Man.
Bagi yang nggak paham bahasa jawa, artinya kurang lebih begini : hutan itu luas, tapi kalo udah kena alas an tambah luas lagi. Hehehe…Ah tapi jadi nggak enak kalo diterjemahin, masak alas an jadi hutanan :p .

Angin berhembus semakin kencang dan ikanpun semakin sombong karena sudah hampir 3 jam kami di sini nggak ada satu pun ikan berhasil kami pancing. Padahal waktu berangkat, saya sudah membayangkan untuk mbakar bandeng di pinggir kolam, yummmm… rupanya khayalan tinggal impian belaka.

Kira-kira setengah 6 sore, kemilau mentari senja semakin menyilaukan mata kami. Kambing-kambingpun sudah mulai digiring keluar area pertambakan oleh gembalanya. Kami pun segera bergegas berkemas dan beranjak menunggangi kuda besi (sepeda motor) kami.

Sebelum pergi Leman sempat mengintip ke dalam sebuah gubug tua di tengah tambak dekat tempat kami nongkrong mancing tadi. Dengan penasaran dia mengintip ke dalamnya. Well..waktu saya tadi lihat ke dalamnya sih suma kosong, nggak ada apa-apanya di dalam, sebuah ruangan kecil seukuran 3 x 4 meter berlantai tanah, itu saja. Tapi entah kenapa Leman pucat dan sedikit salah tingkah melihat isi gubug itu. Apalagi ketika melihat di pintunya yang bertuliskan kalimat berhuruf arab. tapi kan mungkin aja itu cuma kayu bekas yang kebetulan bertulis huruf arab, right?!

Pertama saya dan Furqon, ngengkol starter kaki, lherrrr langsung nyala lancar jaya.

Kedua,blep blepblep werrrbbb…o.. owwhhhh… entah karena grogi atau si Leman benar-benar digandoli dedemit penunggu tambak, sepeda motornya nggak nyala-nyala juga, hahahahaha wajahnya pucat dan berteriak-teriak memanggil kami. Sementara kami dengan santainya melenggang semakin menjauhi Leman. Ketika saya menoleh, barulah saya sadar kalo Leman dalam kesulitan besar.oh tidaaaaakkkk… saya mulai lebay :p

Setelah dibantu Furqon akhirnya sepeda motor Leman bisa nyala. Tapi selama di perjalanan bahkan sampai daerah dekat kampung tinggalnya, wajahnya masih pucat dan terlihat bingung.

Wahai Leman temanku, makanyaa rambut gondrongnya itu dirapiin, biar nggak disangka sejenis sama penunggu tambak.hehehe

 

Selama kurang lebih 3 jam saya berada di tambak Keputih, saya hanya mampu mengidentifikasi beberapa jenis burung saja, diantaranya :

  1. Kuntul kerbau
  2. Raja udang biru
  3. Dara laut kecil
  4. Cekakak jawa
  5. Cekakak sungai
  6. Walet linci
  7. Gagang bayam timur
  8. Trinil semak
  9. Blekok sawah
  10. Mandar batu
  11. Tikusan sp.
  12. Bondol oto hitam
  13. Cici padi
  14. Burung madu sriganti (betina)
  15. Prejak padi
  16. Wiwik kelabu (suara)

Ternyata tanpa buku panduan lapangan pengamatan burung itu saya belum pandai mengidentifikasi😦 tapi saya bahagia sekali sore itu, akhirnya bisa ketemu salah satu dari Gagang bayam yang slalu bikin saya penasaran itu. Ooooh indahnyaaaa..Subhanalloh..

Penghujung bulan sya’ban yang begitu “unspoken” Saya bakal ke sana lagi suatu hari dengan membawa perbekalan dan persenjataan yang lebih lengkap lagi🙂

Keep up birding !!!

 

fatimah.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in I catch the birds, Kopi Hitam ku, Perpustakaan Alam and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Gagang bayam timur, Exploring tambak Keputih

  1. baluran and me says:

    awakmu ki PNS opo pengamat burung e me?

  2. imexplore says:

    Asman AP :

    njuk sampe nangis?.. imey nangis mergo nemu manuk,..??… gak mbois,…

    aku kan berhati lembut Kang :p

  3. inug says:

    jempolpatbelas…saratussangangpuluhsongo.markotopjaya!

  4. imexplore says:

    inug :

    jempolpatbelas…saratussangangpuluhsongo.markotopjaya!

    nek tak eling-eling jempolmu ki meng 4 Nig, njuk sisa ne jempol opo???
    hahahaha
    suwun eniwei🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s