Tentang Wulan dan Bulan

Sebuah hubungan platonik yang bisa saja timbul di antara Wulan dan Jack namun tidak pernah disadari Jack. Dia memang cowok yang nggak terlalu detil dalam beberapa hal tapi sangat detil di banyak hal. Satu hal yang luput dari ketelitiannya adalah perkara cinta. i know…some of us sometimes too sensitive but some of us too busy too get in to it.

Wulan yang sangat mandiri dan supel bisa dengan cepat beradaptasi di lingkungan baru di kampusnya, dan bersahabat dengan Jack, mahasiswa pendatang dari negri tetangga, Singapore. Kekonyolan dan salah paham bukan hal baru dalam persahabatan mereka mengingat perbedaan budaya dan adat dari mana mereka berasal.

Jack yang selalu tertib dan rapi pun akhirnya terkontaminasi dengan kebiasaan Wulan yang slengekan meski sebenarnya dia cukup teliti. Karena seringnya mereka bersama, share some stories, share back pack when they were hiking, that’s make them looked like a couple sometimes, but enemylike in another time, just when they’re debating some topics. Seperti saat ini ketika mereka sedang berdebat tentang kenapa bulan sabit itu nampak muncul dari pinggir semakin ke tengah then full moon? Kenapa nggak dari segaris di tengah kemudian melebar ke samping dan terus ke samping then full moon?

“Aku suka banget bulan sabit” kata Wulan suatu malam ketika mereka berada di puncak gunung Sumbing. Puncak ke sekian yang mereka pernah daki bersama. Kadang bersama rombongan besar, kadang hanya ber-empat dengan kedua sahabat mereka yang lain; Satria dan Ringgo.

Jack menimpali dengan santai gumaman Wulan ” kalo suka, tembak aja..”

“Heh..!!! gak romantis sama sekali jadi cowok..!!!” Wulan dibuat bersungut-sungut karena Jack sudah merusak khayalannya.

“hahahahahaha…” Jack tertawa merdeka setiap kali melakukan itu, dan tawa itu yang selalu membuat Wulan tersenyum sendiri ketika mengingatnya.

“Eh jack, kayaknya aku masih butuh beberapa sampel lagi deh” kata Wulan menghentikan tawa nya.

“Ya kan masih ada banyak waktu besok, kita bisa kliling lagi sebelah situ” Jack menunjuk ke sebuah punggungan yang belum mereka explore.

” But we’ve been here for a week, im just worrying about the samples we had before, i think i better check ’em now” Wulan beranjak dari matras tempat mereka berdua berbaring memandang langit dan bulan sabit, tapi Jack meraih lengannya dan itu menghentikan langkah dan juga detak jantungnya beberapa detik.

“Besok aja” kaata Jack dan seperti sedang dihipnotis Wulan pun kembali duduk kemudian menyandarkan kedua tangannya ke belakang, menopang badannya sendiri. Dan mereka terlibat percakapan dengan hati dan pikiran mereka masing-masing.

Dalam hati Wulan bersorak gembira bisa menikmati bulan sabit bersama seorang jack. Meskipun kendala bahasa sering membuat mereka tertawa sampai menangis karena saking konyolnya pemahaman mereka pada kata-kata yang asing di telinga mereka masing-masing. Tapi bersama Jack hanya dalam diam seperti ini, itu begitu menenangkannya. Wulan bahkan nggakmau mengingat kalo Jack punya seorang pacar yang tinggal di Jakarta; namanya Aida, cewek manis yang manja dan selalu jadi hot babe di lingkungan pergaulannya; di saat yang sama ketika Jack terlalu sibuk dengan dunianya; dunia tanah; mereka menyebutnya. Gairah mereka pada gunung berapi telah menuntun mereka ke banyak puncak gunung di negri ini.

Beberapa menit mereka dalam keheningan, ketika kemudian dua sahabatnya menyusul dengan kegaduhan yang mereka timbulkan. Mereka selalu terlambat mengucap “ups” ketika mereka merusak suasana. Ketika suasana sudah heboh barulah mereka sadar kalo sedang mengacaukan sebuah drama. Ya.. drama tentang seorang gadis yang selalu memandang bulan, namun nggak pernah berani terbang meraihnya. Dia yang nggak pernah berani menanggalkan jangkar pemberat yang menggelayut di kaki nya kemudian mengembangkan sayapnya dan terbang menuju bulan nya. She’s just have to wake up then walk.

Satrio dan Ringgo menyadari dan menyaksikan setiap perubahan yang terjadi pada Wulan, bahkan ketika Wulan sedang sangat sedih karena Jack bertunangan dengan Aida, mereka berdua lah yang selalu menemaninya menangis. Satu hal yang selalu Wulan tekankan pada mereka berdua, do not ever tell Jack about her feeling, don’t even think to do that. Di balik kekonyolan mereka, mereka selalu menghormati apapun keputusan yang diambil oleh sahabatnya itu, pun ketika Wulan bersikeras untuk cukup memendam perasaannya kepada Jack, mereka berdua sangat memahami itu. Banyak hal yang memang mampu kita simpan sendiri, hanya cukup kita dan Tuhan yang tau, tapi ada hal-hal yang seharusnya kita share or even let it blow to let our heart beats in a hot temper adrenaline.

Sensasi ketika kita mengungkapkan sesuatu yang slama ini slalu kita berusaha tutupi karena kita takut dengan resiko terluka, yang membuat jantung kita berdegup lebih cepat dari 100 detak per menit, sensasi itulah yang membuat kita sadar bahwa kita hidup di bumi, tempat kita berpijak dan memandang bulan di angkasa sana. Tempat di mana kita akan tersenyum ketika meneguk secangkir kopi di pagi hari dan menghisap sebatang rokok sambil melihat kekasih yang masih terlelap di balik selimut. Tempat kita akan mengumpat ketika tersandung batu yang membuat kamera kita jatuh terantuk batang pohon di tepi jurang. Tempat kita tertawa ketika hanya sedang membaca komik. Tempat kita akan menangis ketika kita melihat seseorang yang kita cintai terluka tanpa mampu berbuat apapun. Yes, we are living in the same earth. Tempat di mana kita mungkin akan tertawa, menangis, tersenyum dan mengumpat. Planet yang sama di mana kita memandang bulan yang sama. Bulan sabit. Bulan yang tersenyum.

 
 
A story by request from my dearest best friend.
surabaya, 16 oktober 2011.
fatimah.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in belajar cerpen, Kopi Hitam ku and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s