Seteguk rasa

Udara pagi kurasakan begitu sejuk hingga membuatku malas mandi.
Dan tiba-tiba ingatanku melayang ke masa pagi-pagi di mana kita lalui dengan peluh dan tawa.
Seolah pagi itu baru kemarin karena begitu lekat di ingatanku dan tak terhapuskan.
Namun terasa begitu lama seperti puluhan tahun lamanya karena begitu rindunya aku akan tawamu.
Tawa yang selalu memberiku kehangatan di antara langkah-langkah kita.
Bahkan ketika kau setengah mati mengusir angin yang meniup api lilinmu.
Come on, akui saja kalo kau menginginkannya, nikmatilah.
Seluruh dunia juga tau arti senyummu itu.

Senin pagi di taman kampus ***

Victor tersenyum melihat ekspresi di wajah Emily.
“What?” Emily yang merasa dilihat seperti itu menjadi salah tingkah sendiri.
“Nothing.. I said no words, hahaha..” kata Victor.
Tawa Victor semakin membuat Emily sewot “You said no words, but your smile’s creeping me out to freak, you know?!”
Kemudian Victor mendekat ke arah Emily dan berbisik “Aku tau kenapa kamu senyum-senyum gitu”
“Heh..! Sok tau..!! kamu tu nggakusah ge-er ya, aku biasa aja kok. Jangan kira aku happy ketemu kamu sepagi ini ya!”
“Aku kan nggak bilang kamu happy karena ketemu aku, malah kamu yang ngaku sendiri. hahaha.. Sekarang coba bilang, emangnya kenapa kamu senyumnya kayak gitu, hayo?! Come on.. i know you, even better than you”
“Shit..!! rasanya kulitku ini transparan kalo deket kamu, hate you!”
“hahahaha…” Victor tertawa lebih lebar melihat Emily menggerutu seperti itu.

Dalam hati Emily bersumpah akan melakukan apa saja demi melihat mata dan tawa itu, membuatnya seperti sedang berada di atas roller coaster, mual-mual deg-deg-an gimana gitu.Seperti ada sekumpulan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Seperti ada sepuluh kuda Bima berlarian di dalam jantungnya.
“Masuk kelas yuk, bentar lagi masuk, kita cari posisi…hahaha, kan posisi menentukan prestasi kata para leluhur, makanya kamu jangan jauh-jauh duduknya, biar nilaimu gak busuk.”
“Huuuhhh..!! mimpi kali yee… malahan ni ya kalo aku tu duduknya deketan sama kamu ya, yang ada malah nggakbisa konsen ngerjain tes, apalagi ini tes pemrograman, haduhhh… bisa kacau konsentrasiku.”
“ya pastilah.. orang kamu pasti bakal sibuk ngurusin jantung kamu.”
“maksudnya?”
“ah dasar lemot lu Em, udah yuk ah masuk kelas”
Secara spontan Victor menggandeng tangan Emily menuju kelas dan Emily seperti sedang tersihir, menurut ketika tangannya berada dalam genggaman Victor. Terasa begitu nyaman. Dan itu membuat Emily tersenyum sambil menghembuskan nafas panjang dan lega.
Tiba-tiba Victor melepas gandengannya dan menyentuh punggung Emily, benar-benar secara tiba-tiba tanpa aba-aba dan membuat Emily sedikit kaget dan bertanya.
“Kenapa sih?berhenti mendadak, gak pake sein lagi.”
“Aku tu dari tadi kayak denger dug dug dug gitu kenceng banget, eh taunya itu dari jantung kamu yang lagi deg-deg-an ya deket sama aku? hahahaha…”
“VICTOOOORRR…!!!”Emily berteriak sambil mengejar Victor yang berlari melesat menuju ruangan kelas di mana mereka ada ujian tengah semester pagi ini. Yang dikejar semakin tertawa bebas merdeka.

Vick, kamu inget nggak pagi itu? Waktu itu, aku seperti kerbau yang dicucuk hidungku, yang selalu menurut kemanapun kamu menggandeng tanganku. Kamu yang tau persis seperti apa perasaanku saat itu. Kamu yang selalu menggodaku karena aku nggak pernah mau bilang kalo aku suka sama kamu. Kamu yang selalu ada saat aku kemana. Kamu orang pertama yang aku inginkan berada disampingku saat aku menangis, meski kamu nggak pernah datang sore itu ketika seluruh dunia seolah menentangku.

Vick, apa salah ketika semua perhatianmu itu ku nikmati sebagai sebuah cinta? Apa salah kalo aku mau kamu sekarang berada di sini, ketika aku sudah berhasil, mapan, dan dewasa? Aku bahkan nggaktau sekarang kamu dimana. Aku juga nggaktau apa kamu sehat, apa kamu masih selalu meminum obat-obat yang nggak pernah kamu suka untuk meminumnya. Apa wajahmu masih kurus tirus seperti wajah yang selalu aku suka? Ato kamu sudah berubah?Rambut gondrongmu. Mata mu yang selalu tajam tapi begitu lembut saat kau tertawa.

Vick, i miss you so..

Hampir lima tahun Emily tidak bertemu dengan Victor, hingga suatu hari, Emily bermimpi bertemu Victor dan ketika itu Victor melamarnya untuk menikah. Mimpi itu membangkitkan kembali kenangan tentang pagi-pagi mereka bersama sekaligus malam-malam dimana Emily menangis ketika menemani Victor yang menggigil menahan rasa sakit yang sampai sekarang Emily nggaktau sakit apa sebenarnya yang diderita Victor. Begitu kerasnya kenangan itu memaksa Emily mencari tau keberadaan Victor sat ini dan dari berpuluh-puluh teman yang dia hubungi akhirnya dia mendapatkan nomor handphone Victor.

Dengan ragu Em mengirim sms, dan ternyata itu benar Victor. Anehnya rasa yang muncul sekarang bukan rasa yang dulu pernah ada, kini perasaan itu lebih seperti rasa khawatir dan entah apa rasanya.

Siang di Mall dekat kantor Emily***

“Hey, where are you, im here”
“Sip, tunggu bentar, aku jalan ke arah kamu aja, tunggu di situ, jangan kemana-mana ya, ntar malah muter-muter cari-cari-an” Suara di ujung telpon sana.

5 menit kemudian mereka bertemu dan Emily hampir tidak mengenali Victor. Wajahnya berisi, tidak ada lagi pipi tirus yang dulu sempat membuatnya gila ingin menelannya. Rambutnya dibiarkan gondrong melebihi gondrong yang pernah dia lihat dulu. Tapi ada yang nggak pernah berubah. Senyum dari bibirnya itu, hwaaaaaaa…. kamu bikin aku gila Vick.!

“Wow.. kamu berubah ya Em..”kata Victor.
“Kamu juga berubah, sangat berubah.”

Seterusnya mereka hanya duduk di salah satu restoran di mall itu tanpa banyak kata. Mungkin masing-masing dari mereka sedang berusaha membangkitkan rasa yang dulu pernah bersemi namun tak pernah mereka ungkapkan. Tapi mereka ternyata sekarang nggak mampu lagi menumbuhkan rasa itu kembali. Mereka yang kini sudah dewasa. Mereka yang kini sudah punya kehidupan masing-masing. Setengah mati mereka mencoba merasakan kehangatan itu, tapi tetap saja rasa itu nggak muncul.

Satu kalimat perpisahan mereka sore itu,

“Em, kalo nikah jangan lupa kirim undangannya ya, aku pasti dateng.”
Emily hanya tersenyum dan berkata “Pasti Vick.”

 

 

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in belajar cerpen, Kopi Hitam ku and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Seteguk rasa

  1. Huaaaaaaaaaaaaaa………….
    nyong speechless mbak..
    Hahaha

  2. irmmal says:

    Omaigat omaigat omaigatttt……
    wajah tirus, mata tajam tapi teduh dan rambut gondrongg….

  3. irmmal says:

    i’m aul mbak…^^,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s