Tentang Cintaku Pada Matahari

Belum setengah isi buku “CINTA MEMBUATKU BANGKIT” ini selesai aku baca, ada sebersit rasa bersalah ketika ku ingat caraku menuliskan tentang betapa aku cinta matahari dan sangat menikmati tersengat panas matahari.

Buku yang berisi cerita tentang bagaimana “ODAPUS” (Orang Dengan Lupus) ini berjuang hidup berdampingan bahkan melawan dengan seluruh kekuatan yang tersisa dalam dirinya. Menjaga jiwa mereka dari kemarahan bahkan ke-kafir-an yang bisa saja menyerang mereka ditengah deraan rasa sakit. Bagaimana mereka akhirnya menetukan titik didih darah mereka untuk tidak menyerah dan bangkit membuat “sisa hidup” mereka lebih berarti dan berguna. Bagaimana seorang ibu yang sangat tersiksa menyaksikan buah hati nya menderita namun tak mampu menggantikan sakit yang diderita putri kecilnya. Bagaimana kegelisahan orang tua yang mempunyai lupus dalam dirinya tentang anak keturunannya kelak. Perjuangan yang menguras energi dan kesabaran lebih banyak dari yang orang lain lalui.

Sedih sekali ketika mereka ato orang lain; yang kebetulan nggak sakit seperti mereka; mengatakan kata “sisa hidup” seolah itu sebuah penghakiman yang aku yakin sangat menyakitkan. Siapa yang paling berhak atas hidup semua makhluk yang hidup di alam semesta ini? Tuhan lah yang paling berhak. Tuhan juga yang paling berhak memberi peran kepada makhlukNya untuk menjalankan peran apa, siapa, bagaimana, termasuk ujian dan cobaan apa yang pantas dan mampu dilalui makhlukNya. Manusia atau virus varian apapun tidak berhak merusak iman seseorang untuk meyakini kuasa Tuhan.

ODAPUS yang mampu bertahan, buat saya adalah hebat. Dan ODAPUS yang mampu bangkit dari keterpurukannya akibat lupus yang di deritanya, bagi saya mereka luar biasa. Dan ODAPUS yang begitu hebat memberi dan berbuat sesuatu atau banyak hal untuk makhluk lain dengan cara yang luar biasa di luar bayangan ku, membuatku malu sebagai manusia sehat yang ternyata baru sedikit sekali berusaha. Jangankan berguna untuk makhluk lain, menjadi tidak merepotkan makhluk lain saja bagi ku kadang masih sangat sulit kulakukan dengan ego yang sering sekali menguasai hati dan pikiranku.

Apalagi membaca mereka bercerita tentang bagaimana rasa sakit yang mereka rasakan ketika dirinya terpapar matahari, while in the same time i scream to the world ’bout how i love to be stared my the sun. how mean i am. Betapa saya jahat sekali mengatakan itu.

Memupus kecintaan ku pada matahari tak semudah yang kubayangkan, berada dibawah sinarnya seolah membuatku merasa sengatan panasnya membakar segala emosi suka sedih marah yang kurasakan. Seperti ganja yang membuat pecandunya merasakan lonjakan emosional yang meledak ledak di dalam syarafnya.

Aku mungkin nggak bisa berhenti mencintai matahari, bahkan aku punya impian tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk rumahku kelak. Dan aku teringat kembali pada nadzar ku jika aku berhasil mencapai apa yang kujalani saat ini. MENANAM POHON.

Ketika aku tidak mampu menghilangkan matahari yang menyakiti ODAPUS dari muka bumi ini, aku ingin pohon yang kutanam akan mampu meneduhi mereka dari paparan panasnya, dan kami bisa menikmati dan mencintai matahari bersama-sama.

gresik, in the middle of summer june of 2012, fatimah.

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in Rak Buku and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s