KANDANG KAMBING

Teringat tayangan berita di Metro Jatim pagi tadi, sebelum berangkat ke kantor..

Reporter mengatakan bahwa ada sebuah Madrasah di Pacitan Jawa Timur yang notabene tanah kelahiran pak presiden, kondisinya sangat memprihatinkan, berdinding kayu, berlantai tanah. Ketika musim hujan siswa harus bersekolah dengan kondisi lantai becek dan ketika musim kemarau debu nya sangat mengganggu proses belajar mereka. Penyekat antar kelas hanya dibatasi dinding kayu. Blm lagi posisi sekolah yg berada persis di tepi jalan menimbulkan kebisingan yg cukup mengganggu.

 Telinga saya masih bisa mendengar dengan biasa saja laporan itu, karena memang kondisi sekolahan seperti itu masih banyak di negeri ini, hanya karena itu di Pacitan yg sekali lagi tempat asal Presiden aja jd mungkin dibikin agak lebay menanggapinya. Hawa politik mengepul..

 Tapi ketika si Reporter itu membahasakan sekolah itu seperti “KANDANG KAMBING” yang tidak layak disebut sekolahan, nggak terasa airmata saya menetes tanpa dikomando. Miris sekali rasanya. Bagi saya, apapun kondisinya, siapapun harus menghormati “PENGHUNI” sekolah itu. Masyarakat, Guru, dan terutama para Siswa yang sangat butuh support lebih dari sekedar PUBLIKASI KESENGSARAAN. Reporter itu bahkan menyebut Madrasah itu sebagai “Laskar Pelangi 2012” yg kita tau dlm film “Laskar Pelangi” itu menggambarkan sebuah sekolah di daerah terpencil yg bahkan untuk ujian saja harus dilebur dengan sekolah lain dan hampir ditutup karena tidak memenuhi syarat kelayakan.

Reporter itu bahkan mungkin tidak mengenal satu siswa pun yang belajar di sana, berani sekali dia menyebut madrasah itu sebagai “KANDANG KAMBING”

Sejenak saya tertegun, duduk terdiam, teringat kembali mimpiku dan beberapa temanku untuk sedikit berbagi ilmu yg kami miliki pada anak-anak di negeri pesisir ini, rumah baru ku, masa depan ku dan anak-anak ku kelak.

Entah apa yg bisa kulakukan untuk mereka, aku bahkan belum melakukan apapun yg berarti.

Aku yg berada sangat dekat dengan “wakil” mereka yg membidangi pendidikan dan sosial tapi saya blm mampu menggoyang “ke-puguh-an” kepentingan mereka. Saya hanya bisa berusaha berpikir keras bagaimana menemukan cara membawa nuansa “kampung halaman” ku ke “rumah baru” ku yang were totally freaky different.

 Kadang saya merasa sangat lelah ketika harus berteriak di ujung telinga mereka yg mengakui bahwa tempat ini kampung halaman mereka. Kadang saya hanya bisa menangis ketika harus berjalan sendirian meniti pematang tambak yang teriknya membakar kulit dan mata ku. Dan kadang saya merasa tatapan mereka ketika memandang saya seperti sedang melihat alien dengan badan kecil dan antena di kepala ketika saya sedang berjalan sambil tersenyum menikmati matahari pantai.

Being different didn’t mean that you’re an alien.

fatimah, gresik, 11 juli 2012, 12.18
 

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
This entry was posted in Belajar nge-blog, Kopi Hitam ku, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to KANDANG KAMBING

  1. Lp says:

    politik : membinatangkan manusia!

  2. lely says:

    reporter kan mbaca mbak, brarti sek disalahke sek nulis.. heee..
    sepakatt apapun itu, sekecil apapun qt harus berusaha berusaha berusaha untuk melakukan sesuatu yg bermanfaat bagi lingkungan

    • imexplore says:

      kalo yg “hanya membaca” itu namanya “presenter”
      kalo “reporter” ya meliput, menulis, dan melaporkan,
      report=laporan
      reporter=pelapor
      IMHO😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s