Tepian Pantai di akhir musim panas

Hari yang panjang setelah Emily menyelesaikan setumpuk kwitansi untuk laporan bulanan. Sekarang yang dia inginkan hanya duduk di cafe langganannya, mengambil meja paling ujung samping taman dimana dia selalu bisa memandang ke arah pintu. Makan sampai kekenyangan dan minum kopi hitam kesukaannya. PLUS cocktail without alcohol of course. They should be write it down on the list as mocktail :p

Emily masuk cafe itu disambut sapaan ramah para pegawainya yang selalu ramah. Mereka sudh sangat hafal dengan Emily karena hampir mungkin paling lama seminggu sekali dia datang ke tempat ini menghabiskan waktu selama yang dia mau, kadang sendiri, kadang bersama teman-temannya. Dan seperti biasa dia langsung menuju meja paling ujung favoritnya. She just like that table, luas, dekat dengan stecker, bisa melihat ke penjuru ruangan, dan yang paling penting dia bisa melihat ke arah pintu masuk dimana dia selalu berharap suatu saat Victor akan muncul dari baliknya.

Sore itu Emily seperti orang yang sudah tiga hari nggak makan, dia pesen 2 piring makanan, es buah yang porsinya cukup jumbo, kopi dan air putih dingin. Masih tambah kentang goreng sebagai cemilan baca novel, pikirnya. Mbak Tari salah satu karyawan di sana Cuma senyum-senyum waktu nganter pesanannya.

“Temennya belum dateng mbak Emily? Ntar keburu dingin dong makanannya?” tanya mbak Tari.
“Hehehehe buat saya semua kok mbak, kelaparan tingkat kelurahan, hehehe” jawab Emily berusaha menahan rasa laparnya :p
“Okey, slamat makan “ kata mbak Tari lagi sambil masih senyum-senyum.

Mungkin dalam pikirannya mbak Tari mengira kalo di dalam perut Emily ada kandang kecil tapi berisi naga dan macan jadi dia perlu asupan nutrisi yang cukup berlimpah. Hehehe

Setelah mbak Tari pergi, Emily langsung menyantap pesanannya dengan sangat lahap, benar-benar seperti orang yang sangat bahagia. Tapi dia hampir tersedak ketika pada suapan ke 7, 8 ,9, ahhh pokoknya belum setengah piring habis dia makan, karena tiba-tiba saat dia melihat iseng ke arah pintu yang dibuka dari luar dia melihat orang yang penmpilan dan wajahnya sangat mirip dengan Victor. Dia langsung menyambar air putih dingin di botol depannya untuk mengobati ke-tersedaknya sekaligus mengembalikan kesadarannya kembali. Dan belum sepenuhnya kesadarannya kembali normal dan dia mampu menguasai keadaan, sosok yang mirip Victor itu sudah berada persis di seberang mejanya dan nyengir sambil berkata “Kamu lagi nunggu rombongan reog Em ? banyak amat pesenan kamu?”

Masih dengan setengah percaya Emily menggumam “Wake me up ! am i dreaming or what ?! is this you Vick ? ow my god ow my god, somebody must just put marijuana in my meals” dibalas dengan tawa Victor yang mencubit pipinya.

Dan kemudian Emily berkata “Okey, sekarang aku yakin kalo ini kamu, what are you doing here? Bukannya kamu paling anti masuk tempat ini? Kamu bilang kayak anak gaul aja suka nongkrong di cafe, now you see what i did here, right? Im eating. Enggak sekedar nongkrong…”

“Hahaha iya iya Em..aku tau, bagi dong, tuh yang sepiring lagi nggak dipake kan? Owh..i know, you must be ordering this food for me, don’t you?!” Kata Victor sambil makan spagety pesanan Emily tanpa peduli apa empunya keberatan atau rela. Emily yang masih dengan ketidak-percayaannya bahwa dia melihat Victor muncul di depannya, ngembat makanannya hanya bisa bengong sambil terus meneguk air dinginnya sampai habis. Dia lambat menyadari karena begitu dia sadar, Victor sudah menyelesaikan spagety nya dan beralih ke mangkuk es buah.

“Yang ini juga nggak kepake kan Em ? makasih”dengan masih cuek Victor terus menyantap es buah itu.
“Vick, yang laper gue..yang capek gue..yang pesen gue..kenape ente nyang ngabisin bang ?!” komentar Emily melihat Victor makan dengan sangat lahap.
“You know that i need lots of energy to make this place, don’t you? Jadi maklum aja kalo aku laper banget. Udah kamu jangan bawel, nyebelin tau nggak kalo kamu bawel tu” Victor masih cuek.
“hehe udah jangan dibahas lagi” jawab Emily singkat. Dia nggakmau merusak suasana dengan cerita nggak penting tentang “perjalanan” itu. Dia lebih bersemangat untuk membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini dan sedikit cerita tentang mereka.

“Kamu tambah gendut aja Em?”
“Bodo’ amat, aku nggakmau sakit, sedih tau’ sakit jauh dari rumah, apalagi kalo sampe ibuku tau aku mengurus, bisa marah dia, hahaha”
“Halaaahh bilang aja kamu doyan, pake ngajak-ngajak ibuk”
“heheh biarin” kata Emily sambil melanjutkan makannya yang tertunda dan melihat es buahnya tandas di mulut Victor hingga suapan sirup terakhir.

“So tell me what brings you here, Mr. Busy?”
“Iseng aja, sapa tau ketemu cewek tergendut yang paling banyak pesanan makannya, jadi bisa ku embat jatahnya, hahaha”
“Semprul kamu”
“hehehe tadi lewat aja dari bengkel, trus liat sepeda kamu di depan, yaudah aku mampir aja, itu kranjang centil amat warna pink gitu?”
“iya, adanya itu, pengen yang warna ijo nggak terbit, hehehe”
“yaudah kapan-kapan aku cariin kalo pas aku ke toko Sandy”
“Sumpelohhh?” kata Emily dengan mata berbinar.
“Hmmm.. biasa aja kali mbaaakkk..”
“Enggak biasa, soalnya aku udah lama banget nggak ke toko Sandy, terakhir aku tanya dia nggak punya itu kranjang sepeda yang warna ijo, ikut ya kalo kesana, please..”
“Ogah, kamu pasti crewet kalo ikutan, males ngajak kamu”
“Jelek !” Emily manyun.
“Biarin” Victor cuek.

Semenit kemudian HP Emily bunyi “Bentar ya, cowokku telipun, hehehe” kata Emily sambil melangkah agak menjauh dari meja mereka. Dan liima menit kemudian dia kembali.

“Udah”
“Kok cepet? Biasanya ngobrol ampe pegel yang nungguin?”
“Iya, dia cuma ngabarin kalo udah dapet pinter yang kita lagi cari”
“ohh”
“Kamu besok ada acara nggak Vick?”
“Wah, besok aku ada kerjaan, kenapa?”
“Iseng aja nanya, padahal aku udah tau jawabannya juga sih, hehehe”
“Kayaknya aku nggakbisa lama nih Em, kamu nggakpapa kan kalo sendirian?”
“Yaelahh mas… kayak aku ini anak TK yang nggaktau jalan pulang aja, kamu pasti mau kabur kan sekarang? Mau kemana sih? Pacaran ya?”
“Hehehe mau tauuu aja ni bocah” jawab Victor sambil nyengir dan menghabiskan hisapan rokoknya.
“Resek ah kamu Vick”
“Pamit dulu ya, dah Em” Victor pamit. Dan Emily hanya membalas dengan senyum.

Sampai saat ini dia masih belum memahami pasti apa yang sebenarnya ada dibalik tempurung kepala Victor yang sangat keras itu. Mungkin ada semacam mesin cuaca yang bisa merubah mood nya yang kadang panas dan tiba-tiba sejuk kayak habis hujan dan kadang-kadang kayak badai yang bisa meluluh lantahkan perasaannya ketika membuatnya menangis. Dan hari ini Emily melihat musim semi di mata Victor. Musim semi yang sudah sangat lama dia tunggu kehadirannya yang meski sebentar namun sudah cukup mengobati sengatan matahari yang membakar ubun-ubunnya.

Just one of my fave beach

Menyapamu seperti aku sedang berada di tepi pantai.
Aku tak tau gelombang atau riak kecil yang ombak bawakan untukku.
Saat ini aku hanya ingin menyusuri tepiannya karena aku takmau hanyut dalam ombaknya.
Aku tak sanggup lagi terseret ombakmu.
Dan berada di pantainya membuatku bisa memandangmu tanpa aku harus tersakiti oleh gulungan ombakmu.
Karena aku tau ketika aku tergulung ombakmu, kita akan sulit untuk saling melepaskan.

 
 
gresik, 02112012, 02.35, fatimah

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
Gallery | This entry was posted in belajar cerpen, Kopi Hitam ku and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tepian Pantai di akhir musim panas

  1. Hahahaha

    iki based on fact or just fiction mbak..
    hehehehe

  2. imexplore says:

    mun mun..saiki kan wes reti siapa inspirasi tokoh nya kan?
    menurutmu? apa masih fiksi ato masih non fiksi ? hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s