Suatu malam ketika Emily menangis

“Vick, bisa dateng ke rumah nggak?” suara Emily sore itu di telfon. Terdengar sangat datar, nggak seperti biasanya yang selalu ceria dan bersemangat.

“Knapa Em? Kamu sakit? Tunggu ya, aku masih ada kerjaan, dikit lagi kelar kok” Victor menjawab dengan suara yang dibuat setenang mungkin, meski di hatinya sangat khawatir.
Mereka bersahabat sudah sejak masih sama-sama kuliah hingga saat ini mereka sama-sama bekerja di kantor yang berbeda. Namun persahabatan mereka hingga saat ini masih seperti dulu, nggak ada yang berubah.

Setelah selesai semua pekerjaannya Victor langsung melajukan motornya menuju rumah kontrakan Emily yang jaraknya cukup jauh dari kantor Victor. Dan malam itu hujan cukup deras mengguyur kota ini. Victor hanya ingin secepatnya sampai ke rumah Emily. Perasaannya selalu nggak enak ketika terjadi sesuatu yang buruk pada orang-orang dekatnya. Dan hari ini sejak pagi tadi hampir setiap dia berhenti konsentrasi pada pekerjaannya dia selalu teringat pada Emily. Dan ketika Victor sampai di rumah Emily, mengetuk pintu, namun nggak ada seorang pun yang membuka pintu maupun menjawab salamnya, dia buru-buru masuk dan mencari Emily di sanggar. Sebenarnya sanggar ini hanyalah sepetak dak di loteng rumahnya. Di sana, di sisi timur, hanya ada sebuah bale bambu beratapkan tanaman Songgo langit, semacam tanaman menjalar, sebuah meja kayu, sebuah pemanggang arang, dan kaki kanvas tempat Emily menggantung kanvas ketika dia melukis. Di sisi barat dari tempat itu bertambat beberapa tali jemuran dari tali carmantel. Tanaman-tanaman berada di pinggir-pinggir mengelilingi dak itu. Dan di bale bambu itu Victor melihat Emily duduk sendiri. Ada sedikit rasa lega melihat sahabatnya itu berada di sana, at least dia nggak harus keliling kota ini seperti beberapa tahun lalu ketika sahabat mereka meninggal, Taufik, seorang yang sangat baik dan menyayangi mereka berdua seperti sodara, yang selalu mendamaikan mereka berdua ketika mereka berselisih faham. Semoga Taufik nyama di sisi Nya saat ini.

Victor mengambil payung dan berjalan mendekati Emily, “Masuk yuk Em”
Emily hanya menurut ketika Victor menggamit bahunya di bawah payung dan mengajaknya turun masuk ke rumah. Badan Emily sudah basah dan menggigil. Victor mengambil handuk kering dan baju kering dan memberikan pada Emily supaya dia nggak masuk angin.

“Biarin aku kedinginan Vick, aku mau ngedinginin hati sama otak ku” kata Emily lirih hampir tak terdengar tertelan suara hujan yang semakin deras.

“Enggak ! kamu keringin badan kamu, ganti baju, aku bikinin kopi, jangan mbantah ! ato aku pulang?!” Victor berusaha tegas meski hatinya nggak tega berkata begitu

“Aku boleh minta coklat panas aja nggak ?” jawaban Emily memaksa Victor harus menoleh, melihat wajahnya dan meyakinkan apa yang di dengarnya tidak salah. Dalam hati dia membatin ‘Sejak kapan Emily minum coklat panas?’

Victor yang sedang melangkah ke dapur kemudian membalikkan langkahnya mendekati Emily yang duduk di sofa berselimut handuk dan memeluknya.

“Kamu mau coklat panas Em ?” Emily hanya mengangguk terisak dalam pelukan Victor.
Mereka diam lama sekali. Hanya suara hujan dan isak tangis Emily yang terdengar di penjuru ruangan itu. Badan Emily menggigil bukan hanya karena basah terkena air hujan namun juga karena rasa perih yang dia rasakan. Victor membenamkan kepala Emily lebih erat dalam dada nya. Setelah Emily sedikit lebih tenang, Victor melepas pelukannya dan menyuruh Emily berganti baju kering sementara dia membuatkan coklat panas di dapur.

Meski Emily nggak suka minum coklat, tapi dia selalu menyediakan bubuk coklat karena dia tau Victor suka membuat minuman yang dicampur coklat.

Victor kembali dari dapur membawa secangkir coklat panas untuk Emily dan secangkir kopi untuk dirinya.

“Nih, diminum dulu, biar badan kamu angetan” Victor menyodorkan cangkir itu pada Emily. Emily menyeruputnya perlahan. Victor masuk ke kamar Emily mengambil selimut untuk Emily dan membungkus badan Emily dengan selimut itu, dia nggak mau sahabat yang paling disayangginya itu sampai sakit. Ketika dia melirik ke cangkir coklat cait itu dia sangat heran karena cangkir itu telah kosong.

“Kamu buang coklatnya Em?”

“Habis.” Jawab Emily singkat dan datar.

“Kamu minum semuanya?” tanya Victtor lagi, dan Emily hanya mengangguk menjawabnya.

Victor mengambil gitar dari sebelah TV dan kembali duduk di samping Emily dan memainkan dentingan nada-nada tak berlagu. Emily menyandarkan kepala nya di bahu Victor. Mereka berdua masih berdiam satu sama lain. Seperti biasa, Victor tidak pernah memaksa Emily untuk bercerita apapun saat dia sedih, dan akan memberi ribuan pertanyaan ketika Emily senang. Begitupun sebaliknya Emily pada Victor. Hingga akhirnya Emily merasa lebih tenang dan mulai bercerita.

“aku udah nggak tahan Vick, udah berbulan-bulan aku nggak dapet kabat dari Keenan. udah nggak kehitung email ku kirim ke dia dan nggak ada satupun dia bales. Dan hari ini, tadi sore sebelum aku telfon kamu, Keenan telfon, dia bilang kalo ini yang terakhir dan dia nggak akan nemuin aku lagi, nggak akan hubungin aku lagi. Dia bilang kalo aku harus nglupain dia. Aku nggaktau kenapa tiba-tiba dia muncul trus tiba-tiba lagi dia ngilang, tau-tau muncul lagi buat pamitan. Aku nggaktau kenapa Vick”

“Sebenernya kamu sama Keenan tu pacaran nggak sih? Kok nggak jelas gitu? Dia dimana sekarang?”

“Aku juga nggak tau Vick, dia nggak bilang, dia Cuma bilang kalo dia nggak bisa nemuin aku lagi, dia juga nggak bilang alasannya kenapa”

“Gitu doang?”

Emily mengangguk “Dia Cuma bilang kalo dia nggak mungkin nyakitin hati orang tua nya, aku nggak tau apa maksudnya”

“Mungkin nggak kalo dia ke Al Azhar? Soalnya dulu dia pernah crita kalo orang tua nya nyuruh dia nerusin sekolah ke sana”

“Aku nggak tau Vick” dan tangis Emily kembali pecah dan dia menutup seluruh badan dan wajahnya ke dalam selimut.

Masih di dalam selimut Emily berkata sangat lirih “I miss Keenan so much Vick”

Victor langsung mendekap Emiily dan nggak bertanya apapun lagi. Dia hanya berkata “Kamu berhak dapet cowok yang jauh lebih baik dari Keenan Em, kamu berhak untuk itu. Keenan nggak seharusnya kayak gini ke kamu.”

“Aku benci Keenan, Vick ! but i miss him so much”

“I know, i know Em.. sabar ya, suatu saat Keenan pasti njelasin semuanya ke kamu”

“Vick, boleh nggak kalo kamu tidur sini malem ini? Aku nggak mau sendirian”

“Iya, kamu tidur gih, aku di sini kok, aku temenin kamu” Victor berusaha tersenyum demi membuat sahabatnya itu tenang.

“Thanx ya Vick” Emily kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Victor dan badannya melingkar menyembunyikan kedua tangannya, hingga tertidur karena kelelahan menangis. Victor hanya mampu memandang Emily yang tidur dengan masih terisak. Dia nggak akan rela melihat siapapun menyakiti Emily karena Emily adalah sahabat sekaligus perempuan yang dia cintai.

the day you went away was so hard to take.

i cried all night long.

you knew and i knew.

this is hard for us, really really hard to take, i knew that.

all i want from you is just to hear you say the words that i ask you to say.

friday, 23112012, my room, fatimah

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
Gallery | This entry was posted in belajar cerpen, Kopi Hitam ku and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s