Sweet Mistake – Part 1 Join Kopi

Join Kopi

Join Kopi

Mimpi semalam rasanya masih terbayang jelas di meja teras kamar kost Emily saat dia melihat cangkir sisa kopi mereka semalam. Kopi Emily lebih tepatnya, karena Victor sebenernya nggak begitu doyan minum kopi. Baginya, kalo dia bilang “ngopi” itu artinya hang out, sekedar alasan demi bersosialisasi, biar nyambung dan kekinian kata dia. Tapi malam tadi saat mereka ngerjain setumpuk tugas kuliah yang harus selesai dan siap presentasi pagi ini, Victor tergoda untuk nyeruput icip kopi Emily karena aroma kopi yang Emily beli dari toko penggilingan kopi di dekat pasar itu begitu menusuk hidung dan menggodanya untuk memalingkan muka dari teh nya.

“Bagi dikit yak kopinya” kata Victor.
Emily cuma ngangkat alis tanda mengiyakan.
“Enak” Serunya singkat.
“Mau kubikinin?” tanya Emily
“Nggakusah, segini cukup, aku masih setia pada teh, kopi itu terlalu mainstream” jawab Vick sok berfalsafah.
“Alaaaa modelmu Vick” dan mereka tertawa sambil membanting pulpen dan kertas yang mereka tekuni sedari tadi.

Tugas makalah kali ini bener-bener membuat Em kelimpungan, pasalnya, Victor ngasih acuan data nya berat banget. Mana dia nggak ikut wawancara narasumber nya lagi kemaren. Jadi untuk merangkum apa yang dia dengar dari voice recorder tanpa melihat ekspresi langsung dari narasumbernya itu rada-rada bikin melayang. Berkali-kali Emily garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal sambil berharap otak melumer dan encer.

Dengan matanya yang nggak lepas dari layar laptop Victor berkata sekenanya “Pusing ? hehehe suruh siapa kemaren diajakin hunting bahan malah sibuk pacaran sama si itu, siapa nama pacarmu itu? sunaryo? muji? eh sapto? eh sapa tuh ?”
“Enak aja sunaryo, heh..sunaryo itu nama bapak kost-an sini, mau kupanggilin?” Emily ketawa mendengar nama-nama yang tak dikenalnya disebut acak oleh Vick.
“Nha habis itu yang kemaren itu, siapa hayo ?”
“Cowok kemaren itu namanya Dika, dan for your info Mr. Victor, he is not my pacar, tapi…”belum selesai kalimat Emily sudah disambar Victor
“Iya, bukan pacar, cuman cemceman, apa bedanya neng…”
“Dih, kenapa kamu yang sewot? nggak terima? kamu juga jalan sama Sarah lho aku nggak protes”
“Apaan sih.. Sarah tu yang ngebet pengen ngajakin aku jalan..”
“Tapi kamu juga seneng kan jalan sama Sarah.. Udah cantik, modis, gaul, pinter, siapa sih cowok yang bisa nolak dia..”Nada Emily terdengar agak meninggi lalu dia sadar dua detik kemudian bahwa dengan siapapun mereka jalan, mereka nggak bisa saling melarang. Mereka kan cuma temenan doang..
Victor yang juga menyadari kalo pembicaraan mereka sudah akan mulai memanas segera mengalihkan pembicaraan ke bahasan foto nara sumber, yaitu : Tukang Topeng Monyet. Victor nggakmau mereka berantem dan akhirnya makalah nggak jadi. Karena untuk urusan foto, oke, dia sendiri bisa menangani, tapi untuk urusan menulis, demi monyet yang teraniaya kebebasannya dia angkat tangan, makanya dia serahkan urusan tulis menulis pada Emily.

“Foto yang ini gimana Em? menurutku sih ekspresi pawang nya paling dapetdibanding yang lain” Vick mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sini coba ku liat, ini boleh juga, yang lainnya mana liat?” Em berusaha menetralkan kesewotannya karena mereka sadar betul situasi dan posisi mereka.

Mereka benar-benar bekerja keras dalam makalah ini. Di satu sisi ada unsur-unsur yang melanggar hak satwa ketika eksploitasi seperti itu dibiarkjan, tapi di sisi lain ada unsur ekonomi yang mengikat erat ketika sang pawang sudah begitu renta dan memasang tarif ikhlas untuk borongan tampil nya. Sang pawang pun nggak makan gaji buta karena dia juga berdandan badut dan meski nafasnya terengah berkejaran dengan para audien kecilnya, dia tetap tampak bersemangat, meski peluhnya bercucuran di dalam kostum badutnya di siang hari yang panas itu.

Apa mau dikata, tugas mereka hanya mengupas sisi gaya hidup masyarakat perkotaan terkait dengan keberadaan hiburan rakyat ditengah maraknya perangkat-perangkat mainan yang serba canggih saat ini. Mereka nggak berhak menghakimi ataupun mengasihani.

Makalah akhirnya selesai dan siap presentasi besok pagi jam 8. Slide sudah siap, hard copy sudah siap, tinggal bagian Victor menjilidnya di fotokopi-an samping kampus besok pagi-pagi buta supaya nggak telat masuk kelas.

Nggak terasa jam lonceng pak kost sunaryo berdentang saat mereka sedang menyandarkan punggung di bangku teras kamar Emily sambil memandang bintang dan bulan sabit di langit. So sweet banget nggak sih.. hihihihi

“Maaf mbak Emily, itu motor temannya apa mau nitip di garasi apa gimana, bapak nanya tadi” Pak Sam pengurus kost itu tiba-tiba muncul dari arah tangga.
“Ah pak Sam…nggakbisa liat orang nyender bentaran ni..”Kata Victor pura-pura sewot.
“Hehehe ya maaf mas Victor, itu soalnya bapak nanya e..” Logat jawa nya yang kental dan selalu terdengar friendly itu yang bikin Pak Sam akab dan disayang sama pemilik dan penghuni kost ini, termasuk keluarga dan teman-teman kost-er. hehehe kost-er…
“Siap juragan, ini juga udah mau pulang kok, aslinya sih kalo disuruh nginep mau banget Pak, habis udah capek  sama ngantuk banget inih, takut ketiduran di pos ronda, hehehehe” Victor berceloteh sambil nglirik Emily dan Pak Sam, lalu mereka bertiga tertawa renyah yang di lirih-lirih-in mengingat malam sudah larut.

Victor lalu berpamitan dan menyerahkan urusan beberes pada Emily.

Emily yang sudah kecapekan luar biasa udah nggak sanggup lagi membereskan meja, dia hanya memboyong laptop dan buku-buku masuk ke kamar. pikirnya, besok pagi aja mberesin cangkir sama piring gorengannya. Kemudian Emily meregangkan otot lengannya ke atas dan langsung membanting badannya di kasurnya yang sudah menanti sedari tadi. Nggak sampai setengah jam dia sudah terlelap ditemani pemandangan bintang dan bulan sabit dari jendela kamarnya yang lupa dia tutup.

Dalam tidurnya Emily bermimpi begitu manis sehingga saat dia bangun dia merasa segar dan hepi, tapi anehnya dia nggak ingat apa yang diimpikannya. Dia hanya tau, mimpi semalam mampu membuatnya begitu bersemangat dan berbunga-bunga pagi ini. Dan dia saat ini sudah sangat siap untuk presentasi di depan dosen.

Bergegas Emily ke kampus yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kost nya. Dia ingin segera bertemu Victor dan menceritakan mimpi indahnya, meski anehnya dia bahkan nggak bisa menceritakan isi mimpinya. Dia hanya bisa bilang :
“Vick semalem aku mimpi manisss banget, aku lupa mimpi apa, yang jelas aku hepi banget ps bangun tadi pagi” Kata Emily sambil senyum-senyum sendiri.
Victor yang mendengar itu ikut tersenyum sambil berkata :
“Mungkin itu pertanda kalo presentasi kita nanti bakal sukses kali Em..”
Mereka lalu saling mengangkat telapak tangan ke atas dan melakukan tos di udara, High Five !!!

tunggu part selanjutnya di Sweet Mistake part 2
salam
fatimah

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
Gallery | This entry was posted in belajar cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s