Weaning with Love (Menyapih dengan Cinta)

Ternyata menyapih itu adalah sebuah proses yang cukup menguras emosi bagi anak dan ibu, at least itu bagi saya.

Persiapan terbesar adalah mental saya sebagai ibu. Pikiran-pikiran dan kekhawatiran berlalu lalang di benak saya, mungkin itu yg jd sebab saya blm lulus menyapih Saffanah, putri saya, karena dalam pikiran saya sering kali masih terlintas kalimat-kalimat seperti; ‘rasanya begitu nyaman ketika aku bisa mendekapnya dalam pelukanku’, atau ‘wajahnya begitu damai ketika dia netek sampe tertidur’, atau ‘masih belum tega rasanya memisahkan dia dari “hartanya yang paling berharga (payudara ibunya)” meskipun usia nya sudah dua tahun per tanggal 1 april 2016 kemarin.

Apalagi kondisi saya sedang hamil masuk trimester kedua sekarang, emosi saya meningkat tapi energi menurun.

Disapih saja sudah cukup membuat anak mungkin merasa terpaksa agak menjaga jarak dengan ibunya, apalagi ditambah dengan akan hadirnya adik yang mungkin bagi beberapa anak akan menganggap sodara sebagai saingan untuk berebut kasih sayang dari orang tuanya.

Makanya Weaning with Love, Menyapih dengan cinta itu sangat penting diterapkan untuk menjaga psikologis anak supaya dia nggak merasa disingkirkan, dan ibu juga nggak merasa harus menjauhi anak.

Bukan cerita baru kalo anak yg sedang disapih itu rewel, manja dan menjadi lebih nakal. Bagi saya, Saffa nggak rewel dan manja, dia cuma masih ingin dekat ibunya. Dia nggak nakal, dia cuma sedang berusaha menunjukkan eksistensi nya sebagai anak yang “Hello…look at me ibuk, im here, and im your daughter”

Saya dan suami sangat bersyukur Saffanah kecil sangat menyukai anak kecil terutama bayi, dia sangat suka “ngliling” bayi sampai-sampai ibu-ibu, para tetangga kami heran, kok bisa dia nggak cemburu sama adiknya?
Sebenernya saya juga heran dengan mereka, kenapa heran saat ada anak yang hepi mau punya adik?
Bukankah punya sodara itu menyenangkan?
Setiap hari dia semakin sayang pada adiknya yang dia sebut “dedek ganteng yang sedang bobok di dalem perut ibuk”, perut saya selalu diciumi dan dipeluk, alhamdulillah, itu sangat melegakan saya karena itu artinya setidaknya menurut saya, kami berhasil untuk tidak membagi kasih sayang kami antara untuk Saffa dengan adik yang belum lahir. Dan sampai kapanpun kami nggak akan membagi kasih sayang itu, kami akan menambah jumlah dan volume kasih sayang kami untuk mereka.

Banyak yang melarang saya untuk menggendong Saffa karena saya sedang hamil, takut ada apa-apa dengan kehamilan saya. Tapi kalo begini nggendong nya, bisa diampuni dong..

Bagi kami, kalo nggak boleh menggendong karena kekhawatiran pada kehamilan, ya cari cara lain supaya hamil masih aman, tapi tetep masih bisa memanjakan si kakak, jadi nggendong nya pindah ke belakang aja, kan si kakak nggak menduduki adiknya, heheheh
Jangan heran kalo Saffa kecil ku banyak akal dan agak sedikit keras kepala. It’s in her blood, hahaha

Dan dia hepi-hepi aja kok digendong di belakang selama dia masih boleh minta gendong ibunya. Dia pun masih boleh netek kalo mau tidur, meskipun kalo ditanya “ada isinya nggak?” dia akan menjawab “nggak ada isinya, habis, kosong”.
Dia saat ini hanya mencari kenyamanan dari menyusu pada saya, dan saya bersyukur dia nggak dengan gampangnya melupakan kenangan masa ng-ASI kami.
Sampai sekarang saya masih belum menemukan moment tandingan yang bisa menyaingi moment kedekatan ibu menyusui anaknya.
Jadi bagi para ibu yang sedang menyapih, ingat, dulu kita pernah berusaha supaya anak mau ng-ASI, saat dia GTM (Gerakan Tutup Mulut) atau ketika sedang ada masalah dengan payudara kita aja, kita mati-mati an cari cara supaya anak tetap bisa menyusu, bahkan bagi ibu bekerja, saat kerja pun kita selalu menyisihkan waktu istirahat siang kita yang nggak lama untuk mompa ASI supaya anak di rumah atau di Rumah pengasuhan anak supaya tetap bisa minum ASI. Jadi saat menyapih pun jangan terburu-buru, apalagi sampai mengoleskan sesuatu yang pahit, kecut atau nggak enak, nggak perlu se”jahat”itu.
Komunikasikan dengan baik antara ibu dan anak. Bisikkan sugesti positif saat anak tidur (Hypnotheraphy) itu akan lebih efektif dan tidak melukai perasaannya.

Semangat Menyapih Ibu-ibu…😉

 

fatimah, 14 april 2016

 

 

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Weaning with Love (Menyapih dengan Cinta)

  1. elieve says:

    Gud luck ya mak utk WWL, NWP, hamil adike Saffa sampai lahiran, plus nyusuin adike Saffa.😘:-* :-*

    • imexplore says:

      aamiin…WWL e sih insyaalloh ora abot, sing lbh abot ki NWP ne kuwi😥
      menguras energi dan emosi tenan…
      mugo2 lancar dengan semangat dr semua orang😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s