Sweet Mistakes | Sepotong pagi

Kopi hitam

 

Pagi ini langit mendung meskipun semalam begitu cerah bertabur bintang. Tapi pagi ini langkah Emily sangat mantab, dia sudah menyiapkan semua peralatan dan beberapa data sheets untuk pengambilan data sekunder untuk proyek yang sedang dia pegang dari kantornya. Seperti biasanya, setiap pagi setelah briefing dengan kru nya, dia mampir ke bedeng/mes kelompok lain yang letaknya nggak jauh dari bedeng dia, sekedar untuk koordinasi dengan sesama Project Leader atau sekedar sharing kendala dan solusi supaya proyek mereka berjalan lancar dan on schedule. Bahkan kadang dia cuma mampir buat ngopi pagi dengan Ian, sang project leader untuk divisi air. Kebetulan Emily pegang divisi tanah, sesuai bidang keilmuan yang dia tekuni, Geologi.

“Ian, stok kopi masih aman? kebetulan ni ntar aku mau ke kota, mau kirim hard copy dan beberapa sample”
“Boleh deh skalian beli aja, daripada kehabisan, bisa-bisa seduh daun jambu kita”
“Heh ! lu kira orang mencret? hahahaha”

Tawa pagi semacam ini yang selalu membuat mereka awet waras tinggal di bedeng semi permanen di tengah hutan jauh dari kafe tapi tetap bisa ngopi setiap hari, jauh dari yang namanya sinyal seluler, whadda solitude. Meskipun kadang mereka juga dibikin gila kalo lagi kumat ‘anak kota’ nya.

“Bro, pinjam minyak-minyakan apa gitu pokoknya bisa buat urut ala-ala”
“Siapa kesleo? tuh ada minyak tawon, kemarin si Vick bawa, ada di…situ dah, cari di deket meja dapur”
“Minyak tawon apa minyak goreng, Pak? Duh !”
“Udah cari disitu, aku jalan dulu ya, jangan lupa kalo ke kota beli kopi sama micin, kita butuh asupan micin biar tetap kekinian, oke brodah?!” ucap Ian sambil sambil melambai tangan meninggalkan bedengnya.
“Siap !!! Aku nitip anak-anak ya” anak-anak maksudnya adalah kru nya.
“Oyi, kalo kakimu masih sakit, ntar biar ke kota dianter sama Victor aja, skalian dia katanya mau beli apa gitu ketinggalan katanya kemarin karena buru-buru”
“E mandor…siapa juga yang kakinya kesleo, aku mau urut hati yang kesleo, udah kelamaan di hutan jadi awet ngejomblo”
hahahaha…

‘Vick? Maksudnya Victor? Victor yang mana? kru baru? Dia bawa minyak tawon? Kemari? Kok bisa? Kapan? Pagi siang sore malam? Aku dimana kok nggak lihat dia datang?’
Dan seribu pertanyaan yang berseliweran di kepala Emily tapi nggak dia ucapkan, karena nggaktau mau nanya ke siapa. Dadanya sesak menahan emosi.
Emily masuk ke dapur dan menemukan si minyak tawon itu di sana, dalam botol besar, khas dari Makassar, kota Victor. Kepalanya semakin pusing. Dia jongkok bersandar cooler box lalu menelungkupkan tangannya ke wajah sambil kepalanya menengadah.
Dia mengurut tengkuknya dengan minyak tawon itu, sudah dua hari ini dia merasa pusing hebat di kepala bagian belakang, rencananya skalian ke kota dia mau ke dokter. Dia nggakmau mati heroik di hutan.
Emily mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, menghisapnya dalam dan menghembuskannya ke depan wajahnya sendiri, berharap ketika asap itu memudar, akan benar-benar ada sosok Victor muncul di depannya.

Dan,

Setengah mati Emily terkejut ketika sosok Victor benar-benar ada di depannya, dia sampai mengucek matanya demi meyakinkan bahwa itu nyata Victor, bukan khayalannya atau hantu hutan yang menjelma.

“Vick?”
“Iya, ini aku?”
“Kok bisa? Sejak kapan kamu disini? Kamu selama ini tau aku disini? Kenapa sembunyi? Kamu kemana aja?” dada Emily semakin terasa sesak menahan tangis.”
Victor mencoba meraih tangan Emily tapi Emily segera berdiri dan menghindar, dia keluar dapur dan bergegas ingin segera pergi dari bedeng itu tapi Victor mengejar dan berhasil. Sekuat tenaga Emily berontak dan berusaha melepas tangan victor dari pergelangan tangannya, tapi percuma, tangan victor terlalu kokoh.

“Em, please, stay, listen to me” Victor memohon tapi justru semakin membuat Emily marah.
“Me listening you? You listen to me!” nadanya tinggi, keras, marah. Matanya merah menahan emosi dan air mata.
“Where the hell had you’ve been these time? You can’t do this to me, i won’t let you. You hear me?!” Emily berusaha lepas dari Victor, dia segera berlari keluar, menuju Jeep, dia ingin sekali meninggalkan tempat itu secepatnya.
“Vick, stop ! I need a moment” ucap Emily ketika Victor berusaha ikut naik ke mobil itu.
“No. I won’t let you driving alone”
“Hah !? What the hell are you talking about? menurutmu selama aku disini aku manja pake supir ?” Emily sinis.
“Em, please, i can explainna you everything. Aku kemarin…” belum selesai Victor bicara, Emily memotongnya
“I don’t need that, and sorry not to sorry, get outta this car”
Victor diam dan membuat Emily semakin marah. Emily membunyikan klakson bertubi-tubi dan akhirnya Victor mengalah, turun.

Sekuat tenaga Emily menggeber pedal gas sebelum pergi dari sana, membuat debu mengasap, sengaja.

 

fatimah, gresik, 29 Januari 2019

 

About imexplore

Im trying to exploring some things to explore. Sebatas kemampuanku menjelajahi dunia bersama hati dan fikiranku.
Gallery | This entry was posted in belajar cerpen, Sweet Mistakes and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s